1324

Dulu aku percaya, hidup tak bisa di ukur melalui angka. Tapi semakin aku belajar, banyak hal dasar yang justru tercipta melalui angka. Angka bisa saja menjadi jawaban dari segala pertanyaan-pertayaan.
Contohnya saja bagaimana penjabaran mengenai alam semesta dapat diciptakan dari kombinasi angka-angka, bagaimana kombinasi itu bisa memasuki dan diterima oleh akal manusia. Memang benar, terkadang kombinasi sebuah angka membentuk kehidupan seperti semesta. Entah itu untuk hidupmu sendiri, atau seseorang.

Aku menemukan kombinasi angkaku di usia ke 1/4 abad tepat di bulan ke sembilan. Angka sembilan yang katanya adalah angka tunggal tertinggi dan angka kesempurnaan. Di angka tunggal tertinggi ini, kutemukan sebuah pelengkap untuk menyempurnakanku. Sebuah angka ganjil yang kemudian menggenap. 1324.

1324 adalah kombinasi bilangan prima yang dipadukan bilangan bulat. Bilangan prima yang akan selalu menjadi penyusun utama dari bilangan asli sesuai konsep fundamental aritmetika. Artinya, ketika 13 dipertemukan dengan 24, mereka akan saling melengkapi persis seperti teorinya.

Di dalam kitab dan ajaran yang kupercayai pun, juz ke-13 menceritakan soal guruh (petir) mengenai kecemasan-kecemasan. Segala keraguan dari kecemasan akan membutuhkan petunjuk. Ku temukan petunjuk itu pada 24.

Seperti itulah penjabaran angka 1324 dari sudut pandang pribadiku- angka yang membuat hidupku jauh lebih hidup dari sebelumnya.
Angka yang menjadi penggenap dari segala keganjilan.

 

Makassar, hari ke-2 di bulan ke 11. Hari genap di bulan ganjil.

 

 

Advertisements

September

Delapan tahun lalu, aku mulai membenci September. Bagiku, dia adalah bulan yang kehadirannya penuh luka di masa lalu. Butuh waktu dua tahun, hingga aku yakin hatiku sudah berdamai. Menerima september sebagai bagian dari ingatan masa laluku.

Delapan tahun hingga hari ini, september kembali menuliskan kisah baru untuk hidupku. Di bulan yang sama dan orang yang berbeda. Tanpa prediksi dan praduga sebelumnya, hatiku kembali terbuka untuk seseorang yang tak butuh waktu lama untuk meyakinkanku. Ya, lucu.

Seperti bercakap sendiri dengan diriku di delapan tahun lalu – atau lebih tepatnya berdamai.

Kata orang september adalah bulan musim gugur, seperti bagaimana hatiku mulai menggugurkan ego ego ku selama ini. Di september tahun ini, seperti musim gugur, aku menggugurkan masa lalu dan melangkah untuk kedepan.

 

Makassar, 2018.

13.15

Perihal hati tak ada yang pernah tahu. Ibarat pintu dan kunci, mereka saling mencari kecocokan. Terbukakah ataukah terkunci kembali.
Perihal hati selalu menjadi misteri, semakin kau mencari jawaban, semakin ia menuntunmu di dalam ruang pertanyaan.
Perihal hati tak ada yang bisa menebak. Dengan siapa kamu akan jatuh hati, dan dengan siapa pula kamu siap memantapkan hati hingga siap untuk patah hati.
Bisa saja hatimu berakhir di orang terdekat yang tak pernah kamu duga, ataukah orang yang baru kamu kenal kemarin.

Aku sekalipun tak pernah bisa menduga dimana hatiku akan berlabuh – dulunya.
Dan apakah dia akan menjadi pelabuhan terakhir? atau hanya sebatas dermaga persinggahan?
Lagi dan lagi, perihal hati tak ada yang bisa menebak.
Tapi satu yang ku tahu, hatiku telah memilih, dan mendapatkan.

 

Makassar, 09 Oktober 2010

while flashing back to a week ago.

12.35 am!

FullSizeRender

Pada suatu masa, aku pernah melihat seorang gadis menatap dari balik jendela. Sosok lelaki bertopi abu-abu mengenakan coat berwarna hitam gelap hadir di bola mata gadis itu. Tak ada kedip sedikitpun. Lelaki itu berdiri di depan sebuah mobil berwarna metalik, melambaikan tangannya kepada seorang lelaki di depan pintu, kemudian melaju hingga hilang di ujung jalan. Sang gadis menatap kepergiannya dengan perasaan yang tak gampang ditebak. Sedihkah? kecewakah? hanya dia yang tahu.

Pemuda bertopi abu-abu menghantuinya pikirannya selama dua bulan terakhir meski dia tak benar-benar mengenal pemuda itu – kecuali nama dan cerita tentangnya dari orang-orang terdekat. Gadis ini tahu, matanya tak pernah lepas dari sang pemuda sejak pertemuan perdana mereka di sebuah rumah bernuansa modern. Gadis ini mengingat kembali hari itu, ketika mereka saling bertukar nama dan sedikit basa-basi hingga tak ada lagi percakapan hingga tiba saatnya gadis itu meninggalkan kota Sang Pemuda.

Dari balik jendela, gadis ini kembali merekam setiap kejadian yang ditangkap oleh matanya; kelakuan sang pemuda, ketawanya, senyumannya, wajah seriusnya, cara menyetirnya, bahkan cara makannya. Ya, pemuda itu tak tahu jika si gadis mengamati itu semua secara diam-diam dari kejauhan.

Masih dari balik jendela, senyuman kecil dan pilu terukir di bibir gadis ini. Dia tahu jika dia tak bisa apa-apa. Dia tahu jika pemuda itu terlalu jauh untuk di kejar. Dan hari itu  dia bertanya, kagumkah dia? atau jatuh hatikah dia pada sang pemuda? Tak ada yang tahu – kecuali dia sendiri dan dia mengingkarinya.

Si Putih Vaio

Saya berkenalan dengan Si Putih Vaio di tahun kedua sebagai mahasiswa (read; semester 3), ia diperkenalkan melalui ayah. Kesan pertama yang saya dapatkan ketika pertama kali bertemu adalah elegan. Tubuhnya di balut dengan warna putih bersih dan sedikit silver. Vaio ku waktu itu masih menjadi seri terbaru dengan kemampuan diatas rata-rata dibandingkan teman-temannya.

Si Putih Vaio adalah teman yang setia. Dia tak hanya selalu menemani dalam mengerjakan seluruh tugas selama menjadi mahasiswa, namun juga game game dengan spesifikasi tinggi dapat saya mainkan berkat kemampuannya. Vaio selalu ada disetiap travelling atau lomba yang saya ikuti. Juara 3 di ajang bergengsi se-Nasional tak lepas dari campur tangannya. Ya, Slide presentasi yang mampu memukau orang kala itu berhasil saya buat dibantu olehnya. Kecepatannya, memorinya, serta processornya adalah hal yang sangat luar biasa waktu itu. Saya masih ingat, waktu-waktu suntuk di bandara selalu saya habiskan dengan dia – menunggu di Bandara Adi Sucipto, Bandara Juanda, Soekarno Hatta, bahkan Bandara Incheon Korsel, hingga di perjalanan perdana menuju Jepang, dialah yang menemani hingga saya tertidur pulas.

Saya melewati banyak hal dengan Vaio. Debat bersama, duduk di cafe berduaan bersama, stalking tanpa batas bersama. Hingga di tahun akhir sebagai saya mahasiswa, kesehatannya mulai memburuk. Setelah lima tahun lamanya bersama, disaat engsel depannya sudah tak kuat lagi, ia masih bertahan dan menemani saya menghadapi ujian sarjana. Di ruang sidang, dengan perasaan was-was, Si Putih Vaio memberikan dedikasinya dengan tampil sangat prima hingga saya dinyatakan layak mendapatkan title ST.

Awal tahun 2017, kesehatan Vaio semakin memburuk. Sehabis pulang dari Amerika, tubuhnya mulai rapuh sedikit demi sedikit namun ia tetap bersemangat menemani saya melewati dua bulan yang panjang persiapan tes Ielts. Hingga akhirnya, tanggal 20 mei – setelah saya mengikuti real test, kondisinya tak bisa lagi diselamatkan. Vaio ku sayang kehilangan kesadaran tak peduli berapa kalipun saya mengguncang badannya. Hari itu juga saya menyadari jika seluruh perjalanan kami berdua telah berakhir. Takkan ada lagi Laptop berwarna putih duduk manis di atas meja belajar tiap paginya. Takkan ada lagi laptop berwarna putih yang menemani disetiap malam. Dan takkan ada lagi saksi bisu seluruh kisah yang saya tulis. Meski masanya telah berakhir, bagi saya pribadi, Vaio tetap istimewa.

Meskipun kini posisi Vaio telah di isi oleh Bluey, namun kenangannya tak akan pernah terganti. Terimakasih Vaio-ku sayang untuk segalanya, beristirahatlah dengan tenang.

Dari anak gadis di tahun 2012 yang menemukanmu.
Y!

2.22 am

Ketika aku menulis ini, jam di rumahku sudah menunjukkan pukul 02.02 dini hari.
Aku masih duduk di ruang keluarga. Yang terdengar hanya suara kipas angin dan rintik air hujan dari atap rumah.
Aku pulang ke kampung halamanku beberapa hari terakhir ini.

Menurutku berkumpul bersama keluarga adalah harta yang tak bisa kubeli entah berapa banyak materi yang engkau punya kelak.
Ayah dan ibuku memintaku untuk pulang, menemani mereka berdua mengunjungi salah satu daerah di sebelah barat Sulawesi. Sungguh, selama aku belum bisa menyenangkan mereka dengan hasil jerih payahku sendiri, memenuhi permintaan seperti itu sama sekali tak bisa kutolak entah apapun rintangannya.

Pulang ke kampung halaman seperti es yang menyejukkanku dari ribuan pikiran yang tak kunjung berakhir – tentang masa depanku.
Pulang ke kampung halaman kadang mengusik memori-memori yang sudah kulupakan dan buang jauh-jauh – tentang masa laluku.
Namun, apapun itu, pulang ke kampung halaman selalu menjadi kerinduan.

Aku menyadari apabila aku tak akan terus menerus berada di fase seperti sekarang. Fase terdekat dari rumah. Mungkin akan tiba saatnya ketika “pulang” akan jauh lebih sulit di masa mendatang. Kadang aku kasihan melihat orang-orang yang justru membuat alasan hingga mereka menghindari pulang ke kampung halaman. Andaikan mereka tahu, tak ada kebahagiaan dimata orang tua selain melihat anaknya mengunjungi mereka di sela-sela kesibukan.

Dan malam ini, di tanah kelahiranku, aku merenung, jika aku sudah mulai bisa berdamai dengan masa laluku. Lantas, mengapa aku belum bisa bersahabat untuk masa depanku?

– Pinrang, March, 22, 2018

Langitpun ikut menangis malam ini

Pic taken on rainy day before the sun set in my hometown using my mobile phone.

Pernah sekali, aku mencoba mengambil langkah yang akupun masih meragukannya – dengan alasan sederhana. Aku ingin menjadi lebih baik dan menjadi berguna untuk sekelilingku.
Aku mengorbankan banyak hal untuk hal itu, waktu, tenaga, termasuk hatiku.

Bukan perkara mudah untuk melepas sesuatu yang telah lama digenggam.
Bukan perkara mudah membiarkan dirimu meninggalkan tempat yang kau sebut rumah ketika lelah dengan segala tetek bengek sandiwara dalam hidup.
Dan, bukan perkara mudah menatap nanar mata yang sejatinya adalah teduhmu tapi kau buat dia berkaca-kaca.
Namun, dibandingkan dengan hatinya, hatiku jauh meringis. Karena memilih melepaskan sebuah rasa disaat asa tak pernah pudar.

Tapi aku belajar…..
Belajar melepaskan hingga kelak dia menjadi sesuatu yang jauh lebih hebat untuk dirinya, seperti induk burung yang mengajari anaknya untuk terbang hingga kelak ia bisa mengepakkan sayapnya setinggi mungkin – dengan usahanya sendiri.
Dan seperti sang induk, sejauh apapun aku akan tetap ada untuk mendukung sang anak.

Suasana hatiku berpadu dengan langit abu-abu malam ini. Nampaknya langit menangis di kala pelupuk mataku justru meredam air yang ingin mengalir.

Tuesday, June 20, 2017.